Earn money from your website/blog. Get paid through PayPal Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com Beriklan Murah Disini Beriklan Murah Disini Beriklan Murah Disini

Baca Dan Renungkan

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudahberkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuktetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.

Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.

Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.


Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.

Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.

Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.

Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.

Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisamakanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.

Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.

Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken Soup", saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.

Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.

Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.

Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat
nasihat istri tersebut.

Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.

Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.

Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.

Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang juga.

EMPATI
By: Andy F Noya

Artikel Terkait:

38 komentar:

dhimas mengatakan...

hore yang pertama nich ane, critanya seru bos healthlovemoneyand family

Winahyu mengatakan...

bener-bener suatu renungan yang menyejukkan hati...

Databip mengatakan...

sungguh artikel yang memberikan inspirasi. Trims :)

wiQy mengatakan...

keren banget:o

ema-pembalut mengatakan...

salam kenal....
kunjung kami ada produk baru dan kerja sama menguntungkan....

Stop Dreaming Start Action mengatakan...

Terimakasih artikelnya sangat membantu bagi semua pembaca, semoga bermanfaat
Salam Action

Informasi yang menarik adalah informasi yang membuat pembacanya mendapatkan manfaat darinya.
Semoga informasi anda menjadi salah satunya.


Stop Dreaming Start Action
Bisnis Internet Marketing

edylaw mengatakan...

kayaknya kalau makan di restoran atau kedai nasi terus kita yang bersihkan emang rada aneh ya hehehe

Saung Web mengatakan...

Yah itulah kehidupan sob.. tiap hari kita makan nasi.. kadang kita lupa siapa yg nanam padi.. sooo semua profesiakan saling terkait.. dengan kehidupan kita..

king mengatakan...

tq dah diingatkan.......

sephtian mengatakan...

oke deh akan saya renungkan... hehehe

ema-pembalut mengatakan...

wah inspiratif banget...

"kunjungan balik...saatnya ibu lebih mandiri.....
saya punya dagangan bagus cari mitra masarkan
pembalut sehat dan menghasilkan"

ema-pembalut mengatakan...

inspiratif sekali...

khairuddin syach mengatakan...

mari membiasakan membuang sampah pd tempatnya

Free Music Download Mp3 Musik Indonesia Terbaru Lirik Lagu Indonesia Cord Gitar mengatakan...

thnks for tips
semoga artikelny terus dapat membuat wawasan orang yang membaca lebih banyak khususnya saya sendiri makasih sebelumnya

Dani Mengembalikan Jati Diri Bangsa mengatakan...

Dear,
Thank for the information. Keep blogging.
Please exchange link with me at
Stop Dreaming Start Action
Or
Mengembalikan Jati Diri Bangsa

pernikahan mengatakan...

wah bener juga, hal-hal kecil menurut kita bisa menjadi hal beasr bagi orang lain.

Kuliah Gratis mengatakan...

Salam kenal dulu

All About Life mengatakan...

thnks infonya sob sukses selalu yah...
terus berjuang sob MERDEKA

klik saya dong kawan... mengatakan...

Mas admin keren blognya... bagi temen2 dan mas admin sendiri silahkan yah mampir keblog saya...

kalo mau tukeran link saya coment saya ajah yah... makasiih semuanya...

re-saintazkiya mengatakan...

Renungkan juga...
karena saya adalah calon perawat yang lebih sering dihina, dicaci, dan direndahkan daripada dokter.
sedangkan tugas perawat lebih banyak dalam membantu pasien. So it`s life
Tukeran link yuuuk?

tips computer mengatakan...

renungan yg indah :)

peluang usaha mengatakan...

makasih renungannya
semoga membuat kita lebih baik lagi

iklan baris mengatakan...

makasi atas renungan nya,dengan kita merenungi kesalahan2 di masa lalu agar bisa lbh di mana dpn

agnoe mengatakan...

nice post, salam kenal dari newbie

cara cari uang mengatakan...

wah menarik sekali,,,postingannya, memang kadang kalu kita melihat dari hati kadang masih banyak orang yang masih kesulitan dalam hidup, ya seperti pelayan masakan siap saji, yang cuma bisa memandang dan bekerja untuk restorannya, sungguh menarik direnungkan

salam

fikri

Belajar Affiliate mengatakan...

Sebuah contoh keteladanan yang sangat baik mas. Moga2 bisa dipertahankan.
Mari Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Gilang's Blog mengatakan...

Terima kasih atas infonya...
kunjung balik ya di :
http://gilangardya.blogspot.com
Gilang's Blog

Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang mengatakan...

tetap konsisten ya...

Locksmiths Atlanta Georgia mengatakan...

I like this blog.

Fikri mengatakan...

sesekali kita perlu merenungi semua itu.

b mengatakan...

Wah, bagus nih artikelnya sangat membantu sekali. Lain kali jangan lupa untuk mengunjungi www.direktori-iklan.com dan www.referensi-iklan.com ya!!! Di sana Anda dapat memasang iklan atau mempromosikan website Anda secara GRATIS dan dapat pula meningkatkan traffic website Anda secara singkat !!!Tersedia juga berbagai ebook dan software premium untuk didownload secara FREE juga.Nah, jangan lupa beri komentarnya ya ! dan tukar/pasang linknya juga. Salam Sukses Selalu !!!

kerja keras adalah energi kita mengatakan...

merenung mode :on

btw datang ke tempat ane y bos cz ane punya lomba seo kecil2an nih y sapa tau tertarik

Mengembalikan Jati Diri Bangsa mengatakan...

Artikel bagus. Betah saya baca-baca di blog ini. Posting lagi artikel yang menarik ya bos

Charlotte Garage Door mengatakan...

Who likes to party?

Habib Yunus mengatakan...

Baca dan renungkan kemudian praktekkan... Yuk Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang dan mari Mengembalikan Jati Diri Bangsa

mobil bekas jakarta mengatakan...

Wah, gak nyangka di kota jakarta masih ada orang berjwa sosial seperti anda, Salut!

robi mengatakan...

teruslah menulis seperti itu... untuk para teman blog..

free download lagu indonesia ter update dan terbaru mengatakan...

aku selalu merenung jika membaca itu

Poskan Komentar